Monday, 21 September 2015

THE VILLAGERS, UPAYA MEMPERTAJAM EMPATI SISWA

Kamu tahu Avengers? Ya, Tony Straik dan kawan-kawan yang bekerjasama melawan musuh bumi. Tapi The Villagers tidaklah sama dengan Avengers. Hanya mirip pengucapannya saja. Avengers dan Villagers adalah term yang berbeda. Sekarang sudah jelas kan antara Avengers dengan Villagers. Dari pada saya bilang Villagers tapi yang diingat Avengers.

The Villagers adalah salah satu program di sekolah tempat saya mengajar. Kegiatan ini mengusung tema penanaman karakter sosial dalam diri anak-anak. Mereka akan berada di sebuah desa, tinggal bersama warga, bekerja dan beraktifitas layaknya warga.

Ketika ide ini mencuat tentu saja memunculkan pro dan kontra. Yang memahami nilai-nilai kepekaan sosial dan ketajaman rasa empati yang menumpul tentu setuju dengan kegiatan ini. Tetapi melihat pada stakeholder para walimurid, kegiatan ini akan sulit dilaksanakan. Toh, untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut, apakah harus dengan ala KKN mahasiswa?

Setelah melalui diskusi panjang kegiatan bakti sosial ini pun diterima dan mendapat dukungan. Adalah Dusun Ciliwa, Suak, Kalianda, yang menjadi tempat tujuan anak-anak.

Apa yang dilakukan dalam The Villagers?

Kami membagi siswa dalam beberapa kelompok, tergantung jumlah rumah dari warga yang bisa kami tempat. Masing-masing kelompok terdiri tidak lebih dari tujuh siswa. Setiap kelompok akan bekerjasama dalam melakukan hidmah di desa.

Target pertama adalah membersihkan musholla yang terletak di tengah-tengah dukuh ini. Musholla yang tidak begitu luas ini merekan jejak telapak kaki di pintu masuknya. Sudut-sudut ruangnya pun penuh dengan sarang laba-laba. Bisa diterka kalau musholla ini jarang dibersihkan. Tampungan air wudlu juga sudah penuh dengan lumut-lumut hijau. Untung tidak ditinggali jentik-jentik nyamuk.

Satu kelompok membersihkan musholla, kelompok yang lain membersihkan lingkungan sekitarnya. Dusun ini tidak memiliki jalan berbatu, apalagi aspal. Tanah liat yang tersiram hujan akan menelan sendal orang-orang yang memaksakan diri melewati jalan dusun. Membersihkan lingkungan yang seperti ini pasti tidak mudah. Beruntung sekali mereka yang mendapatkan jatah membersihkan musholla. Sial sekali mereka yang mendapatkan jatah menggali lubang sampah.


Saya tidak tahu pasti jumlah anak-anak usia dini atau pelajar, mungkin sekitar dua puluh anak. Saya tidak sempat menghitung karena saya lebih asik melihat kegiatan mereka belajar bersama dibimbing oleh kakak-kakak yang jauh-jauh datang dari kota. Ada yang belajar bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan juga Matematika. Ucap saya dalam hati, “Hmmm, enak kan jadi guru?”

Ternyata masih ada kegiatan lain. Masing-masing kelompok harus mengikuti kegiatan ini: membuat gula merah.



Tak jauh dari dusun suak terdapat kebun kelapa yang dimanfaatkan untuk memproduksi kepala merah. Ada sekitar delapan tobong (gubug kecil untuk memasak gula). Dari nyuluh aren kelapa sampai ke pencetakan. Hanya saja untuk nyuluh-nya kami tetap percayakan pada empunya.


Anak-anak antusias sekali mengerjakan tugas masing-masing untuk membuat gula merah. Ada yang sibuk mencari kayu, ada yang menjaga tungku api biar tetap menyala, ada juga yang mengaduk aren yang dimasak supaya tidak mengerak.

Hmm, bisa jadi, gula merah yang ada di dapur kita sekarang berasal dari tangan-tangan warga desa Suak ini.

Sebagai penutup kegiatan perpisahan, kami mengadakan pengajian pada malam hari. Warga di sini masih sangat guyub rukun dan suka bergotong royong. Kalau mereka mendengar ada kegiatan pengajian mereka akan berduyun-duyun datang ke tempat tersebut untuk mendengarkan pengajian.

Karena pengajian yang kami selenggarakan ini adalah semacam perpisahan kegiatan The Villagers, maka kami mengadakannya secara ‘diam-diam’. Tidak ada woro-woro supaya dusun sebelah tidak mendengar perihal ini. Bukan karena kami menutup diri, tetapi kami dan warga tidak siap kalau tiba-tiba tamunya membludak.

Tiada rasa yang lebih besar dari rasa syukur yang mendalam karena dua kali melaksanakan kegiatan ini kami telah banyak belajar, siswa telah banyak belajar, dan terimakasih kami untuk warga dusun Ciliwa yang telah membuka tangan lebar-lebar.

Tahun ini tentu akan ada lagi kegiatan serupa. Di mana dan kapan? Kita lihat saja nanti aksinya.

No comments:
Write comments

© 2014 Dingkelik Sekolah. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.