Showing posts with label Aktivitas. Show all posts
Showing posts with label Aktivitas. Show all posts

Thursday, 19 May 2016

PEMILIHAN STUDENT OF THE YEAR 2016

Aulia - Hani
Yang menarik dari Ar Raihan adalah bentuk apresiasi terhadap peserta didik yang dilakukan setiap bulan. Kami menyebutnya "Student of the Month". Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh setiap siswa-siswi untuk didaftarkan dalam kandidat Studen of the Month. 

Homerooom Teacher akan memilih dua dari siswa-siswinya yang mampu menunjukkan progres yang baik dalam interaksi sosial di kelas dan peningkatan progres belajar baik akademik maupun non-akademik.  Selanjutnya, guru akan memberikan penilaian terhadap para kandidat. 

Pada akhir tahun pembelajaran, seperti saat ini, para Student of the Month akan diuji kompetensinya untuk dapat terpilih dalam kandidat student of the year. 

Tahun ini enam finalis Student of the Year yang akan mengikuti presentasi. Mereka memilih satu tema untuk dipresentasikan di depan panelis sekaligus menjawab beberapa pertanyaan.

Finalis Student of the Year: Alvian - Rizky - Shandy - Dzaky

Sebelumnya, terdapat lima belas kompitor yang mengikuti seleksi yang dilaksanakan oleh panitia. Hingga tersaring enam finalis: 
  1. Aulia Dwi Shafira 
  2. Hani Aprilia
  3. Alvian Yusuf Mizan 
  4. M. Rizkianto Ramadhan 
  5. Shandy Satria 
  6. M. Dzaky Murtadha
Pada proses terakhir seleksi Student of the Year, mereka harus menyampaikan presentasi dan menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari panelis. Tim penyelenggara memilih guru-guru terpilih dan kritis untuk menjadi panelis. 

Panelis pertama adalah Dila Saktika Negara. Guru Matematika. Kemampuan mengajarnya atraktif dan menariklah hingga para siswanya sangat mencintainya. Ketidakhadirannya di kelas dapat mengukir sedih di wajah para siswanya.


Panelis kedua adalah M. Firmansyah. Juga guru Matematika. Menjadi panelis dalam Student of the Year ini adalah tugas tambahan pertama baginya setelah seminggu yang lalu ia mengakhiri masa jomblonya.



Dan yang terakhir adalah Najih Mustofa. Fresh graduated dari program pascasarjana IAIN ini dikenal memiliki ketegasan dalam mendidik putra-putrinya. Tentu saja, sebagai homeroom teacher kelas XI tentu dibutuhkan ketegasan untuk mendidik siswanya. Meskpun demikian, tak ada siswa yang membeci ketegasannya. 


Read More

Saturday, 19 December 2015

MEMPERCEPAT PROSES HAFALAN MELALUI TAHFIDZ CAMP

Hadza min fadli robbi

Kalau memasuki pekan ujian akhir guru dan siswa jadi tampak sibuk bukan kepalang. Guru-guru menyiapkan soal evaluasi akhir semester, siswa-siswi mempelajari materi berdasarkan kisi-kisi. Dan ini terjadi setiap tahun.

Syukurlah, setelah dua pekan ujian tensi dan isi kepala saya tetap normal. Wajah saya tidak begitu tertekuk seperti semester-semester sebelumnya. Yah yang namanya error dan out of track masih saja terjadi tapi untuk kesempatan kali ini saya masih bisa tersenyum.

Teman-teman Lajnah Tahfidz meminta saya untuk ikut berpartisipasi dalam ujian hafalan. Saya mendapat jatah hafalan siswa kelas 9. Aneh sih kalau harus menguji hafalan karena saya sendiri tidak hafal sama sekali. Selain itu, saya pun malu. Sebenarnya siapa yang kencing berdiri dan siapa yang kencing berlari?

Bagaimanapun juga tugas tetaplah tugas, tetap harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan.

Melihat anak-anak antusias untuk menghafal dan menghadap penguji membuat hati saya berbunga-bunga. Bahagia minta ampun. Saya pikir orangtua mereka pun merasakan demikian.

Terselip di antara rasa haru itu ada peristiwa lucu yang membuat saya tersenyum. Ketika ada salah satu anak yang saya uji tidak hafal kelanjutan ayat. Saya pun memberi clue dengan cara membacakan awalannya: fa al…! Si anak bukannya mengulangi dari awal justru langsung melanjutkan ke bacaan: hamahä fujürohä…. Eh, ternyata bukan hanya satu anak. Berikut-berikutnya semakin banyak yang meracau begitu.

Tahun lalu, yang ikut Tahfidz Camp mencapai 50-an anak. Oia… Tahfidz Camp itu tindak lanjut untuk peserta yang tidak tuntas setiap level yang sudah ditentukan. Tahfidz Camp bukan acara hura-hura perkemahan tapi ini adalah acara isolasi siswa supaya fokus menyelesaikan target hafalan.

Kesempat Tahfidz Camp saat ini jauh lebih sedikit. Ada lima belas siswa yang belum tuntas dengan variasi jumlah surat. Ada yang belum hafal dua surat, satu surat, bahkan ada yang enam surat.

Mungkin kelimabelas anak ini mendengar cerita dari alumni Tahfidz Camp tahun lalu, atau mungkin juga peserta yang sama dengan tahun lalu—“Ketidaknyamanan” yang mereka alami selama Tahfidz Camp menyebar seperti kapas tertiup angin. Sehingga, saat daftar kelimabelas siswa tersebut diumumkan mereka buru-buru mencari panitia untuk segera menuntaskan hafalan. Pokoknya jangan sampai menginap. Walhasil, dari lima belas siswa yang terdaftar tersisa enam siswa yang menginap.

Panitia berjumlah sembilan dan peserta hanya enam. Dan enam siswa ini semua dari kelas tujuh. Jadilah malam itu mereka seperti guru PAUD.


Dari semua peserta Tahfidz camp yang saya hadapi saya mendapati satu siswa yang membuat saya haru. Pencapaiannya jauh sekali dari target. Maksud saya, seharusnya semua siswa mampu berlari mencapai sepuluh kilometer, dia hanya mampu tiga kilometer. Seperempatnya saja tidak tercapai. Jauh bukan?

Dia tidak bisa mencapai target hafalan bukan karena tidak mampu menghafal tapi modal untuk membaca Alquran yang perlu di-upgrade. Bagaiamana mau menghafala Alquran secara mandiri kalau membacanya saja belum bisa.

Saya terharu karena setelah saya membimbingnya untuk menghafal secara sima’iy—mengulangi bacaan ayat yang saya perdengarkan—ternyata dapat diserap dan dihafal dengan cepat. Pagi sampai sore bisa menghafal dua surat: al-‘Ädiyät dan al-Zalzalah.

Keikutsertaannya di Tahfidz Camp bukan serta merta tidak mampu menghafal tapi karena tidak mampu membaca apa yang harus dihafal. Inilah ladang amal bagi guru yang mau membimbingnya—jariyah yang takkan terhenti aliran pahalanya.
[full_width]
Read More

Monday, 2 November 2015

PROMOSIKAN SEKOLAH MELALUI KEPUASAN SISWA


Di antara kita mungkin masih banyak yang tidak memperhatikan bahwa siswa adalah promotor efektif untuk mengenalkan sekolah kepada oranglain. Bagaimana bisa?

Guru adalah unsur terpenting dalam pendidikan. Merekalah yang menskenariokan kegiatan sehingga peserta didik dapat menyerap target materi yang diajarkan. Dan tidak banyak guru yang mampu secara kontinyu melakukan inovasi pembelajaran. Merencanakan pembelajaran yang menarik untuk setiap pertemuan sehingga peserta didik akan mengalami berbagai kegiatan untuk menyerap ilmu pengetahuan.
Ada orang yang mengajar sepuluh tahun tapi pengalamannya hanya setahun. Ada yang mengajar satu tahun tapi pengalamannya sepuluh tahun.
Apa hubungannya dengan promosi sekolah? Tentu saja keberhasilan dan kepuasan peserta didik menjadi faktor penting dalam kegiatan promosi sekolah kepada masyarakat. Bayangkan apa yang akan diceritakan oleh peserta didik kita ketika mereka sudah keluar gerbang sekolah, ketika mereka berada di rumah bersama keluarga, saat liburan, dan momen-momen lainnya. 

Bisa jadi mereka membicarakan rambut kita yang tidak rapi saat mengajar. Mungkin juga tentang guyonan yang kita lontarkan saat mengajar di kelas. Atau jangan-jangan mereka sedang membicarakan julukan yang tepat untuk gaya kita ketika menghadapi mereka. 

Umumnya peserta didik dapat merasakan kebanggaan atas sekolahnya karena tempat mereka menimba ilmu memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Labortorium yang komplit, perpustakaan yang memiliki banyak koleksi buku, kamar mandi dan kantin yang bersih, dan lainnya. Sarana olahraga yang beraneka ragam, media penunjang yang siap memenuhi kebutuhan pembelajaran, dan lainnya. 

Selain itu, guru yang --istilah om Mario Teguh-- super juga dapat merubah image sekolah yang menyeramkan menjadi mengasyikkan. Perubahan paradigma ini harus berangkat dari guru itu sendiri. Sebagaimana disingguh di atas, setiap guru harus mampu merancang kegiatan pembelajarannya dengan baik dan menyenangkan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan asal mengajar sehingga siswa yang sudah menguasai akan mempelajari itu-itu saja atau yang membutuhkan remidial justru semakin tertinggal. 

Sekolah memiliki kewajiban untuk menyusun program-program sekolah yang komprehensif. Sekolah harus merubah persepsi bahwa pendidikan tidak melulu terjadi di ruang kelas. Sekolah harus bertaruh bahwa siswa pintar bukanlah siswa yang peringkat kognitifnya jauh melampaui rata-rata. Ada nilai-nilai di luar kecerdasan kognitif yang juga harus diperhatikan. 

Siswa, di manapun, sangat menyukai kegiatan di luar kelas. Kegiatan-kegiatan di luar kelas inilah yang akan mengajarkan peserta didik belajar tentang timing, kerjasama, saling menghormati, dan lain sebagainya. Program-program pendukung yang disusun oleh guru dan sekolah menjadi salah satu keran untuk membuat siswa menyukai dan bangga menjadi bagian dari keluarga besar sekolah. 

Kalau unsur-unsur tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik, kemudian siswa bisa merasakan kebahagiaan, kebanggaan, dan kepuasan menjadi bagian dari sekolah, maka bisa dibayangkan apa yang akan diceritakan kepada oranglain di luar sana.


Read More
© 2014 Dingkelik Sekolah. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.