Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Wednesday, 20 April 2016

UN UNTUK PEMETAAN PENDIDIKAN NASIONAL, BENARKAH?


Ujian Nasional tingkat SMA selesai diselenggarakan. Ada siswa yang merayakannya, ada pula yang was-was. 

Mereka yang merayakan, melakukannya dengan berbagai bentuk ekspresi, dari memberikan buku dan seragam kepada yang membutuhkan hingga konvoi dan corat-coret seragam. Sementara ada pula siswa yang was-was dengan hasil UN karena akan menentukan kelanjutan studinya di tingkat lanjutan. 

Berbagai bentuk ekspresi yang diluapkan pasca-UN menimbulkan pertanyaan apakah hasil UN benar-benar bermakna bagi peserta didik?

Ketika surat keputusan tentang kelulusan tidak lagi ditentukan oleh hasil UN sampai di sekolah tidak hanya guru yang bernapas lega. Seluruh siswa dan juga walimurid turut bahagia. Orientasi pembelajaran pun bergeser khususnya di kelas XII. Yang tadinya sangat berorientasi pada nilai (grade-oriented) kini bisa lebih fokus pada pembelajaran. 

Tidak dipungkiri sebelum ada keputusan tersebut, baik sekolah, siswa dan orangtua mengeluarkan banyak energi dan finansial supaya siswa dapat melampui kelulusan UN. Pelajaran non-UN terasa dianak-tirikan. Pembelajaran selama tiga tahun seperti menjadi remah-remah hanya karena kelulusan UN. Yang sangat disesalkan upaya meluluskan siswa ditempuh dengan cara tidak elegan dan fair dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian Nasional sama sekali tidak memiliki makna kecuali angka di atas 5.5 yang didamba-damba itu. 

Banyak sekolah dan siswa yang belum bisa merubah wajah kengerian dalam menghadapi Ujian Nasional. Kengerian yang dihadapi lebih dari sepuluh tahun itu belum juga pudar dalam waktu dua tahun. 

Meskipun Ujian Nasional tidak lagi menjadi faktor penentu kelulusan—dan disebut-sebut sebagai pemetaan pendidikan nasional—sekolah dan siswa masih saja kelimpungan di semester akhir kelas XII. Mengapa? Kita bisa mendapatkan jawaban dari beberapa sudut pandang berikut. 

Salah satu pendongkrak image sekolah adalah prosentase kelulusan Ujian Nasional apakah berada di atas prosentasi kota/kab atau justru terperosok di bawahnya. Posisi ini tidak banyak diketahui oleh stakeholder walimurid tapi jelas tergambar di kalangan sekolah, pengawas pembina, dan dinas pendidikan. 

Mungkin karena desakan gengsi inilah keinginan untuk mendongkrak pencapaian hasil Ujian Nasional terus menyeruak. Tidak sedikit dari sekolah-sekolah itu membentuk tim khusus untuk mensukseskan Ujian Nasional. Tidak hanya sukses dalam pelaksanaan ujian tetapi juga sukses dalam pencapaian hasil ujian. Tim inilah yang berjibaku dalam pembinaan peserta didik. Hingga ketika ada oknum tim yang kalap, oknum inilah yang rela mencoreng tugas mulia guru. 

Bagi siswa hasil Ujian Nasional hampir menjadi segala-galanya. Berapa pun nilai yang diperoleh ia akan terpampang jelas di halaman kedua sertifikat kelulusan. Siapa yang menginginkan nilai dengan kategori “kurang” terpampang di SKHUN miliknya? Sedikit yang akan merelakannya. 

Tidak hanya masalah nilai yang tertulis di sertifikat kelulusan, keinginan siswa untuk melanjutkan ke beberapa sekolah juga menjadi motif. Memang, untuk perguruan tinggi hasil Ujian Nasional bukan menjadi prasyarat tetapi untuk beberapa instansi ikatan dinas—seperti IPDN, Akpol, Akmil, dll—hasil Ujian Nasional masih menjadi penentu.  

Kalau tujuan pendidikan masih menatap pada tinggi-rendahnya hasil ujian nasional, kalau fokus belajar masih mengejar angka-angka dari pada nilai-nilai, maka wajah pendidikan nasional akan ‘begini-begini saja’. Apa pun kurikulum yang diberlakukan. 

Ada kabar menarik ketika hasil Ujian Nasional tidak lagi menjadi faktor penentu kelulusan. Yaitu bahwa hasil Ujian Nasional akan menjadi tolok ukur bagi Pemerintah untuk pemetaan pendidikan nasional. 

Tekad tersebut harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat, khususnya oleh instansi pendidikan. Saya membayangkan—karena belum pernah mendapatkan penjelasan detil tentang pemetaan yang dimaksud—pemetaan tersebut dapat memberikan gambaran pencapaian pendidikan nasional berdasarkan hasil Ujian Nasional. Sehingga sekolah, dinas pendidikan setempat, bahkan Kementrian Pendidikan dapat melakukan pembenahan berdasarkan hasil Ujian Nasional. 

Tidak hanya itu, hasil Ujian Nasional dapat memberikan pemetaan kualitas sekolah berdasarkan jurusan peminatan dan sekolah kejuruan. Mungkin ada sekolah dengan kualitas peminatan IPA dan IPS yang sama bagusnya tetapi mungkin juga ada yang timpang. 

Pemerintah telah menyediakan dua situs terkait dengan pendidikan nasional, yaitu http://bsnp-indonesia.org, http://unbk.kemdikbud.go.id dan http://www.kemdikbud.go.id. Informasi tentang pelaksanaan Ujian Nasional pun dapat diserap dari kedua situs tersebut. Begitu juga dengan informasi-informasi lainnya yang terkait dengan kegiatan dan informasi pendidikan di negeri tercinta ini. 

Akan tetapi sangat disayangkan, informasi tentang hasil Ujian Nasional, begitu juga dengan pemetaan hasil Ujian Nasional, tidak secara transparan disampaikan kepada masyarakat. Tidak hanya kurang transparan dalam menyampaikan pemetaan yang digembar-gemborkan itu, tindak lanjutnya pun tidak ada. 

Padahal pemaparan pemangku kebijakan tentang tindak lanjut dan pemetaan pendidikan nasional sangat dinantikan oleh masyarakat. Kalau pemerintah tidak segera memberi jawaban maka tidak salah kalau banyak anggapan bahwa Ujian Nasional hanyalah politik anggaran belaka. 

Lalu bagaimana dengan peserta didik? Mereka akan tetap menganggap bahwa hasil Ujian Nasional adalah harga mati; cara yang sistematis untuk menjadikan anak-anak kering akan nilai-nilai.[]
Read More
    0

Monday, 2 November 2015

PROMOSIKAN SEKOLAH MELALUI KEPUASAN SISWA


Di antara kita mungkin masih banyak yang tidak memperhatikan bahwa siswa adalah promotor efektif untuk mengenalkan sekolah kepada oranglain. Bagaimana bisa?

Guru adalah unsur terpenting dalam pendidikan. Merekalah yang menskenariokan kegiatan sehingga peserta didik dapat menyerap target materi yang diajarkan. Dan tidak banyak guru yang mampu secara kontinyu melakukan inovasi pembelajaran. Merencanakan pembelajaran yang menarik untuk setiap pertemuan sehingga peserta didik akan mengalami berbagai kegiatan untuk menyerap ilmu pengetahuan.
Ada orang yang mengajar sepuluh tahun tapi pengalamannya hanya setahun. Ada yang mengajar satu tahun tapi pengalamannya sepuluh tahun.
Apa hubungannya dengan promosi sekolah? Tentu saja keberhasilan dan kepuasan peserta didik menjadi faktor penting dalam kegiatan promosi sekolah kepada masyarakat. Bayangkan apa yang akan diceritakan oleh peserta didik kita ketika mereka sudah keluar gerbang sekolah, ketika mereka berada di rumah bersama keluarga, saat liburan, dan momen-momen lainnya. 

Bisa jadi mereka membicarakan rambut kita yang tidak rapi saat mengajar. Mungkin juga tentang guyonan yang kita lontarkan saat mengajar di kelas. Atau jangan-jangan mereka sedang membicarakan julukan yang tepat untuk gaya kita ketika menghadapi mereka. 

Umumnya peserta didik dapat merasakan kebanggaan atas sekolahnya karena tempat mereka menimba ilmu memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Labortorium yang komplit, perpustakaan yang memiliki banyak koleksi buku, kamar mandi dan kantin yang bersih, dan lainnya. Sarana olahraga yang beraneka ragam, media penunjang yang siap memenuhi kebutuhan pembelajaran, dan lainnya. 

Selain itu, guru yang --istilah om Mario Teguh-- super juga dapat merubah image sekolah yang menyeramkan menjadi mengasyikkan. Perubahan paradigma ini harus berangkat dari guru itu sendiri. Sebagaimana disingguh di atas, setiap guru harus mampu merancang kegiatan pembelajarannya dengan baik dan menyenangkan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan asal mengajar sehingga siswa yang sudah menguasai akan mempelajari itu-itu saja atau yang membutuhkan remidial justru semakin tertinggal. 

Sekolah memiliki kewajiban untuk menyusun program-program sekolah yang komprehensif. Sekolah harus merubah persepsi bahwa pendidikan tidak melulu terjadi di ruang kelas. Sekolah harus bertaruh bahwa siswa pintar bukanlah siswa yang peringkat kognitifnya jauh melampaui rata-rata. Ada nilai-nilai di luar kecerdasan kognitif yang juga harus diperhatikan. 

Siswa, di manapun, sangat menyukai kegiatan di luar kelas. Kegiatan-kegiatan di luar kelas inilah yang akan mengajarkan peserta didik belajar tentang timing, kerjasama, saling menghormati, dan lain sebagainya. Program-program pendukung yang disusun oleh guru dan sekolah menjadi salah satu keran untuk membuat siswa menyukai dan bangga menjadi bagian dari keluarga besar sekolah. 

Kalau unsur-unsur tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik, kemudian siswa bisa merasakan kebahagiaan, kebanggaan, dan kepuasan menjadi bagian dari sekolah, maka bisa dibayangkan apa yang akan diceritakan kepada oranglain di luar sana.


Read More

Tuesday, 22 September 2015

TEKAD DALAM DIRI PENDIDIK DAN PELAJAR


إذِ الفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِع     وَكُلُّ مَن لَم يَعْتَقِدْ لَم يَنْتَفِعْ

Syair di atas pasti tampak asing bagi siswa-siswi Arraihan. Secarik bait itu bisa ditemui di pembukaan kitab Imrithi karya Syarofuddin Yahya al-Imrithiy. Kurang lebih, nasehat itu bisa diterjemahkan begini: Derajat seorang pemuda akan diangkat tinggi karena kemulyaan tekatnya (niatnya). Setiap orang yang tak memiliki tekat yang mulia maka ia takkan memberi manfaat. 

Kita bisa menarik makna ‘fata’ yang secara harfiah berarti ‘pemuda’ ke dalam beberapa terminologi. Dalam lingkungan pendidikan, kita bisa menarik maknanya ke dalam dua terminologi yaitu guru dan siswa. 


Guru adalah profesi yang sangat mulia. Ia menjadi tonggak utama penyaluran cahya ilahi yang bernama ilmu pengatahuan. Bahkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan telah dijanjikan oleh Allah akan ditempatkan di derajat yang tinggi. 

Namun, tidak semua orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang baik dan mumpuni akan serta merta menempati derajat yang dijanjikan oleh Allah tersebut. Anggaplah hadiah kemulyaan itu adalah klausa tindakan, maka diperlukan syarat aksi untuk mendapatkannya. Di antara syarat yang saya maksud adalah ketulusan dalam mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sekaligus mengajarkannya.

Menjadi guru sudah berada di posisi yang benar dan tepat untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Tinggal meluruskan niat dalam mengajar dan mendidik siswa, sangat memahami dirinya sendiri untuk apa dirinya berada di dunia pendidikan, dan mengerti apa yang sebenarnya ingin diraih dalam dunia pendidikan.

Saya kira kita tidak perlu membahas lagi tentang falsafah pendidikan, apa hakekat, metode dan tujuan pendidikan. Kita sudah selesai dengan permasalahan itu. Kita tinggal merawat niat kita dalam mengajar dengan baik, memupuk kepekaan kita untuk membimbing anak-anak supaya kelak mereka siap menghadapi tantangan di zamannya. Dan guru yang tidak memiliki niat/tekad yang kuat cenderung mudah terhempas oleh berbagai permasalah dan kehidupan pribadi.


Lain guru lain pula siswa. Mereka bukan sekedar harapan bagi orangtuanya, tetapi menjadi tumpuan bagi generasi bangsa karena merekalah yang akan mengisi kehidupan berikutnya. Kalau salah mendidik di usia dini maka bisa kita bayangkan sendiri dampaknya dalam satu atau dua dasawarsa kedepan.

Siswa-siswi kita saat ini tidak hanya berhadapan dengan materi-materi pelajaran yang kompleks, mereka juga berhadapan dengan godaan-godaan lingkungan terutama teknologi informasi dan komunikasi. Mereka masih tampak labil. Cobalah cermati kebiasaan mereka untuk me-rebroadcast sms yang diterimanya tanpa memilih dan memilah. Cobalah kunjungin akun media sosial mereka dan cermati tema pembicaraan mereka.

Usia mereka saat ini berada di fase yang kritis dan labil, di persimpangan antara hasrat dan idealitas. Daya saring mereka belum secanggih orang-orang dewasa, tapi daya serap mereka melampui perkiraan para guru dan orangtuanya.

Saya sangat senang dan kagum ketika mendengar siswa-siswi tingkat menengah mampu berkiprah dalam perebutan pretasi, baik akhirnya kalah ataupun menang. Sekilas tampak kejam karena mereka harus menjatuhkan orang lain, tapi sekilas mereka dapat belajar tentang betapa pentingnya fokus dan tujuan. Itulah daya dorong yang mampu membuat mereka melesat.

Di sinilah peran lembaga pendidikan. Ia mencoba menyelaraskan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru membuat skenario dan simulasi untuk menanamkan pemahaman. Siswa membuka jendela untuk memperluas wawasan. Guru dan siswa harus bak gayung bersambut. Tentu saja, pada praktiknya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja, ada hambatan-hambatan yang menggelisahkan sekaligus menantang. 

Sekali lagi, baik siswa maupun guru, ataupun siapa saja yang memiliki i'tikad yang baik, kemulyaan hidup takkan mudah diraih. Dengan keteguhan dan ketekunan dibalik niat yang kuat kita akan meraih kemulyaan itu. Apa indikasinya? Dalam lanjutan syair itu berbunyi:  

وَأنْ يَكُوْنَ نَافِعًا بِعِلْمِهِ      مَنْ اعْتَنَى بِحِفْظِهِ وَفَهْمِهِ 

Hendaklah ia menjadi orang yang memberi kemanfaatan bagi orang lain melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki. Tidak hanya mengamalkan ilmu pengetahuannya, tetapi juga menjaga dan mendalaminya secara tekun. 

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Read More

Monday, 21 September 2015

BELAJAR MENJADI GURU KREATIF



Mendidik membutuhkan kesabaran yang tinggi. Begitu pula untuk menjadi orang yang terdidik.

Sudah banyak loh metode mengajar ditemukan, dipaparkan, dan diseminarkan. Datanglah ke toko buku terdekat dan tengoklah etalase bagian pendidikan. Puluhan buku dengan berbagai judul yang membahas teori pendidikan termutakhir. Banyak kan?

Memiliki tekad yang kuat tidaklah cukup sebagai modal. Seorang pendidik semestinya memiliki kekayaan lain sehingga ia mampu menjadi pembimbing bagi para muridnya. Kemampuan pedagogik yang baik, profesional dalam menjalankan profesinya, memiliki hubungan yang baik dengan rekan sejawat, dan ‘inner beauty’ yang matang sebagai seorang pendidik.

Hmm, saya pingin pamer sebentar. Sejak kecil saya sudah terlibat dalam pendidikan. Semasa sekolah di tingkat menengah sudah membantu orangtua untuk membimbing adik-adik di TPA. Meskpun bukan bergelar sarjana pendidikan untungnya saya ditakdirkan menjadi pendidik. Pernah mengajar di sekolah dasar sampai menengah atas. Kalau dinilai dari sisi profesionalisme guru, tentu saya berada di tempat yang sangat jauh untuk menjadi guru profesional. Tetapi saya belajar banyak sekali dari pengalaman itu.

Saya mengenal teman-teman saya adalah guru yang profesional. Mulai dari latar belakang kependidikannya sebagai guru sampai pada ketuntasan administrasi guru. saya kalah telak. Makanya saya belajar banyak dari teman-teman saya. Saya belajar cara membuat perangkat pembelajaran, cara mengevaluasi pencapaian siswa, cara menghadapai walimurid yang gundah gulana, dan masih banyak lagi. Tapi masalah satu ini saya belajar dari sang guru saya.

Yang saya maksud dengan ‘satu ini’ adalah tentang kesabaran. Hmm, menjadi guru harus sabar. Sabar dalam mengajar, mendidik, dan membimbing. Godaan menjadi guru itu besar sekali.

Saat ini kaum brahmana berada di level yang paling rendah padahal pada masa lalu, kaum brahmana itu manusia luhur yang dipanuti. Brahmana itu ya guru (terlepas dari makna guru secara terminologis dan filosofis), orang-orang yang mengajari kita mengerti kehidupan. Dan kini mereka terjungkal, kata-katanya tak didengarkan. Siapa yang didengarkan?

Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih mendengarkan orang yang memiliki uang. Semakin kaya semakin didengarkan. Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih memiliki uang dari pada memiliki ilmu pengetahuan. Covernya ia belajar, tapi hatinya mencari kiat menjadi kaya.

Di sinilah guru-guru menghadapi godaannya. Saat orang lain berkendara mewah membelanjakan uang, ia harus berpanas-panasan di ruang kelas mengajarkan calistung. Di saat orang lain makan enak, ia justru tirakat makan ala kadarnya karena gajinya tak cukup untuk membeli daging sekilo. Kalau saja para guru itu tak memahami bahwa dari dalam dirinyalah cahaya Ilahi memancar; bahwa mereka menjadi wakil Adam as. mengenalkan ciptaan-ciptaan Ilahi dan kandungan hikmahnya; maka jatuhlah moralnya.

Tak dipungkiri, banyak pelajar-pelajar saat ini hanya mencari legalitas keilmuan bukan menggali ilmu pengetahuan, mencari angka-angka bukan memaknai nilai-nilai. Pada mulanya, nurani mereka tak menginginkan hal demikian, tetapi orangtua dan lingkungan, tontonan dan pergaulan, memaksanya meredupkan cahya nuraninya sehingga uanglah segala-galanya. Guru yang telah jatuh moralnya akan melihat ini sebagai peluang memperkaya diri.

Maka, saya sering merenungi diri saya sendiri. Sambil merenung sambil berdoa. Rasa-rasanya selama ini saya mengajar tidak baik. Lah, sudah capek-capek mengajar, tapi anak-anak tidak juga pinter. Gregetan tidak juga mencapai standar minimal. Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan teman-teman yang senasib dengan saya?

Singkatnya, saya berdiskusi dengan teman dan saya coba reduksi tanggapan beliau. Dari mana kau mengukurnya? Dari angka-angka itu atau dari persepsimu? Atau malah jangan-jangan dari peraturan-peraturan pemerintah?

Menjadi guru adalah menjadi tangan langit. Sedangkan ukuran-ukuran yang dibuat adalah ukuran-ukuran bumi. Seharusnya, dikembalikan kepada langit melalui kepasrahan akan hasilnya. Dan hasil bukan jadi konsern manusia. Yang menjadi konsern manusia adalah prosesnya. Proses yang kontinyulah yang akan menentukan baik buruk manusia menjadi tangan langit. Proses akan putus di tengah jalan kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Kesabaran seseorang akan tumbuh subur kalau ia mengetahui akar dan sumber masalah yang dihadapi. Mungkin karena kuatnya keyakinan yang ada dalam diri kita kalau orang bekerja maka hasilnya kaya, kalau orang belajar maka hasilnya pintar, sampai-sampai melupakan asal muasal segalanya. Mengapa tidak dimantapkan saja dengan berucap basmalah untuk mengajar yang baik, yang tulus, yang penuh pengharapan dan kepasrahan, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengetahui. Karena kita sudah ditempatkan sebagai guru, maka mendidik dan mengajarlah dengan sebaik-baiknya, karena kita ditempatkan sebagai murid maka belajarlah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar pintar yang dicari di bangku sekolah. Bukan hanya pintar.

Lalu saya terus berdiam diri lalu berkarya.
Read More
© 2014 Dingkelik Sekolah. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.