Saturday, 19 December 2015

MEMPERCEPAT PROSES HAFALAN MELALUI TAHFIDZ CAMP

Hadza min fadli robbi

Kalau memasuki pekan ujian akhir guru dan siswa jadi tampak sibuk bukan kepalang. Guru-guru menyiapkan soal evaluasi akhir semester, siswa-siswi mempelajari materi berdasarkan kisi-kisi. Dan ini terjadi setiap tahun.

Syukurlah, setelah dua pekan ujian tensi dan isi kepala saya tetap normal. Wajah saya tidak begitu tertekuk seperti semester-semester sebelumnya. Yah yang namanya error dan out of track masih saja terjadi tapi untuk kesempatan kali ini saya masih bisa tersenyum.

Teman-teman Lajnah Tahfidz meminta saya untuk ikut berpartisipasi dalam ujian hafalan. Saya mendapat jatah hafalan siswa kelas 9. Aneh sih kalau harus menguji hafalan karena saya sendiri tidak hafal sama sekali. Selain itu, saya pun malu. Sebenarnya siapa yang kencing berdiri dan siapa yang kencing berlari?

Bagaimanapun juga tugas tetaplah tugas, tetap harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan.

Melihat anak-anak antusias untuk menghafal dan menghadap penguji membuat hati saya berbunga-bunga. Bahagia minta ampun. Saya pikir orangtua mereka pun merasakan demikian.

Terselip di antara rasa haru itu ada peristiwa lucu yang membuat saya tersenyum. Ketika ada salah satu anak yang saya uji tidak hafal kelanjutan ayat. Saya pun memberi clue dengan cara membacakan awalannya: fa al…! Si anak bukannya mengulangi dari awal justru langsung melanjutkan ke bacaan: hamahä fujürohä…. Eh, ternyata bukan hanya satu anak. Berikut-berikutnya semakin banyak yang meracau begitu.

Tahun lalu, yang ikut Tahfidz Camp mencapai 50-an anak. Oia… Tahfidz Camp itu tindak lanjut untuk peserta yang tidak tuntas setiap level yang sudah ditentukan. Tahfidz Camp bukan acara hura-hura perkemahan tapi ini adalah acara isolasi siswa supaya fokus menyelesaikan target hafalan.

Kesempat Tahfidz Camp saat ini jauh lebih sedikit. Ada lima belas siswa yang belum tuntas dengan variasi jumlah surat. Ada yang belum hafal dua surat, satu surat, bahkan ada yang enam surat.

Mungkin kelimabelas anak ini mendengar cerita dari alumni Tahfidz Camp tahun lalu, atau mungkin juga peserta yang sama dengan tahun lalu—“Ketidaknyamanan” yang mereka alami selama Tahfidz Camp menyebar seperti kapas tertiup angin. Sehingga, saat daftar kelimabelas siswa tersebut diumumkan mereka buru-buru mencari panitia untuk segera menuntaskan hafalan. Pokoknya jangan sampai menginap. Walhasil, dari lima belas siswa yang terdaftar tersisa enam siswa yang menginap.

Panitia berjumlah sembilan dan peserta hanya enam. Dan enam siswa ini semua dari kelas tujuh. Jadilah malam itu mereka seperti guru PAUD.


Dari semua peserta Tahfidz camp yang saya hadapi saya mendapati satu siswa yang membuat saya haru. Pencapaiannya jauh sekali dari target. Maksud saya, seharusnya semua siswa mampu berlari mencapai sepuluh kilometer, dia hanya mampu tiga kilometer. Seperempatnya saja tidak tercapai. Jauh bukan?

Dia tidak bisa mencapai target hafalan bukan karena tidak mampu menghafal tapi modal untuk membaca Alquran yang perlu di-upgrade. Bagaiamana mau menghafala Alquran secara mandiri kalau membacanya saja belum bisa.

Saya terharu karena setelah saya membimbingnya untuk menghafal secara sima’iy—mengulangi bacaan ayat yang saya perdengarkan—ternyata dapat diserap dan dihafal dengan cepat. Pagi sampai sore bisa menghafal dua surat: al-‘Ädiyät dan al-Zalzalah.

Keikutsertaannya di Tahfidz Camp bukan serta merta tidak mampu menghafal tapi karena tidak mampu membaca apa yang harus dihafal. Inilah ladang amal bagi guru yang mau membimbingnya—jariyah yang takkan terhenti aliran pahalanya.
[full_width]

No comments:
Write comments

© 2014 Dingkelik Sekolah. Designed by Bloggertheme9
Powered by Blogger.